Make your own free website on Tripod.com

 


Mengapa berkeinginan meraih gelar Ph.D ?

motivasi yang mendasari Wiryanto Dewobroto ingin meraih gelar Ph.D (atau di Indonesia disebut Doktor)

Abstrak : Motivasi yang mendasari seseorang mau melakukan ‘sesuatu’ penting secara kejiwaan, karena dapat merangsang tindakan sadar maupun tidak sadar untuk mencapai sesuatu tersebut. Motivasi juga menumbuhkan enerji yang diperlukan untuk menghadapi kesulitan atau tantangan yang timbul selama proses pencapaian tersebut. Dapat saja seseorang mempunyai ‘kemampuan’ tetapi tidak termotivasi memakai kemampuan tersebut, tentu saja tidak akan menghasilkan sesuatu. Sedangkan orang yang belum berkemampuan tetapi mempunyai keinginan atau motivasi yang kuat maka tindakannya akan mengarah kepada usaha untuk mengumpulkan kemampuan untuk akhirnya dapat mewujudkan keinginan yang menjadi motivasinya. Oleh karena itu, mengetahui motivasi seseorang akan membantu mengetahui apakah sesuatu itu dapat teraih atau tidak. Suatu motivasi yang kuat dan didukung oleh kompetensi yang baik merupakan kondisi ideal seseorang untuk secara cepat mencapai sesuatu yaitu meraih gelar Ph.D.

Kata kunci : motivasi, Ph.D degree, gelar Doktor, penelitian, publikasi


Pendahuluan

Tulisan ini merupakan jawaban tertulis atas pertanyaan Prof. Sahari Besari pada saat sidang Ujian Kualifikasi Doktor di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Jumat 24 Februari 2006. Pertanyaannya adalah : “Mengapa saudara Wiryanto berkeinginan untuk meraih gelar Ph.D ?

Pada saat sidang, penulis telah mencoba menjawab pertanyaan tersebut secara singkat, yaitu untuk dapat menjadi peneliti, atau semacamnya. Tetapi karena hal tersebut ternyata belum memuaskan beliau maka penulis coba menjabarkan secara lebih detail dengan menceritakan latar-belakang yang menyertainya sedemikian sehingga menjadi bentuk tulisan berikut.

Meskipun tulisan ini lebih banyak menceritakan pengalaman pribadi, tetapi diharapkan dapat menjawab pertanyaan di atas sekaligus juga agar dapat digunakan sebagai bahan renungan untuk rekan-rekan lain yang berminat.

Definisi dan Gelar Ph.D yang dimaksud

Menurut ensiklopedia Wikipedia, Ph.D merupakan singkatan dari Doctor of Philosophy, (dari bahasa Latin "Philosophiæ Doctor"; atau kata yang sejenis lainnya yaitu Doctor Philosophiæ, D.Phil.), yang asal-mulanya adalah gelar (degree) yang diberikan universitas pada mahasiswanya yang dianggap telah mampu secara individu mencapai suatu tingkatan tertentu yang diakui oleh team pengujinya dan telah menunjukkan ketekunan serta menghasilkan karya-karya produktif di bidang falsafah (tentu saja yang dimaksud disini adalah falsafah atau konsep mendasar dari suatu ilmu, bukan hanya ilmu filsafat saja). Penggunaan istilah "Doctor" (dari kata Latin: guru) umumnya ditujukan kepada individu yang berusia separo baya yang menunjukkan bahwa sebagian besar hidupnya telah didedikasikan dalam bidang pembelajaran, mencari pengetahuan baru (penelitian) dan penyebaran pengetahuan (publikasi).

Sedangkan definisi menurut Universitas Otago, New Zealand, bahwa seseorang sukses mencapai tingkatan Ph.D bila karya tulisnya (Ph.D tesis atau disertasi) dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa yang bersangkutan telah mampu secara mandiri melaksanakan suatu riset yang bersifat orisinil dan mempresentasikannya dalam suatu standard yang profesional. Kecuali itu, isi dari thesis tersebut harus dapat memberikan suatu kontribusi yang nyata pada bidang ilmu yang digelutinya. Jadi gelar Ph.D diberikan untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan mempunyai kemampuan secara individu untuk melakukan riset yang bermutu tinggi pada bidangnya tanpa supervisi orang lain. Umumnya gelar diberikan jika yang bersangkutan telah melaksanakan riset dibawah supervisi team khusus yang dibentuk dan melalui tahapan-tahapan evaluasi yang ditentukan oleh Universitas.

Gelar Ph.D populer pada abad 19 ini, dimulai di Berlin, Jerman, di Universitas Friedrich Wilhelm (sekarang Universitas Humboldt di Berlin, http://www.hu-berlin.de/ ), sebagai gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah melakukan riset orisinil di bidang sain dan humaniora. Selanjutnya menyebar ke Amerika Serikat di Universitas Yale (1861), kemudian ke United Kingdom tahun 1921 dan akhirnya ke pelosok dunia.

Gelar Ph.D menjadi persyaratan agar dapat diterima sebagai pengajar tetap universitas (umumnya masih terbatas pada universitas-universitas ternama) atau peneliti pada beberapa bidang ilmu tertentu. Pada bidang lain, misalnya rekayasa atau geologi, penyandang gelar Ph.D akan memberi nilai tambah tetapi bukan sebagai syarat untuk bekerja pada bidang tersebut. Bahkan pada bidang-bidang pekerjaan tertentu, pegawai dengan gelar Ph.D dikategorikan terlalu ‘berlebih’ atau 'overqualification'.

Di Indonesia dimana gelar dapat dijadikan status sosial tertentu maka untuk menghindari penyalah-gunaannya, pemerintah mengeluarkan Kepmen No.036/U/1993 tentang "Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi". Peraturan tersebut menyatakan bahwa gelar akademik dan sebutan profesional lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak dibenarkan untuk disesuaikan dan / atau diterjemahkan menjadi gelar akademik dan / atau sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri, maka gelar Ph.D tidak dikenal dalam dunia pendidikan di Indonesia. Adapun gelar yang setara dengan gelar tersebut adalah gelar Doktor atau disingkat Dr. , yang menunjukkan gelar akademik tertinggi yang dapat diberikan universitas terhadap lulusannya dan berlaku untuk semua cabang ilmu.

Penulis memakai istilah Ph.D pada awal tulisan ini, dan bukan dengan Doktor untuk membedakan bahwa Doktor yang dimaksud adalah yang setara dengan Ph.D , karena di luar negeri dijumpai juga gelar-gelar ‘doktor’ lain yang lebih spesifik, misal Dr.-Ing.; D.Eng. (Doctor of Engineering); D.Sc. (Doctor of Science); D.B.A. (Doctor of Business Administration) ; dan sebagainya.

Peminat gelar Ph.D (atau gelar Doktor di Indonesia)

Dari uraian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa gelar Ph.D menunjukkan bahwa seseorang mempunyai kompetensi melaksanakan riset orisinil bermutu tinggi secara mandiri (penelitian) dan mampu untuk menuliskannya sehingga dapat menyakinkan orang bahwa risetnya bermutu (publikasi). Maka gelar tersebut tentunya hanya diminati oleh orang-orang yang berkecipung di bidang-bidang yang terkait dengan dua hal tersebut, misalnya kalangan perguruan tinggi, peneliti atau lembaga pada Research & Development, dan lainnya yang sejenis.

Kalaupun ada orang-orang di bidang lain (misalnya pedagang, tentara dsb) mengambil program pendidikan untuk gelar tersebut, tentulah hanya orang-orang yang tertarik untuk menguasai ke dua hal yang baru tersebut. Jika gelar tersebut ternyata hanya digunakan untuk prestise saja maka tentunya tidak efisien, karena untuk itu diperlukan ketekunan dan waktu yang cukup lama (di UNPAR paling cepat 3 tahun). Lebih baik pikiran dan waktu yang ada difokuskan untuk berwirausaha sehingga dapat diperoleh uang yang banyak untuk digunakan untuk membeli rumah atau mobil atau sesuatu yang lain yang bersifat prestise. Tidak ada jaminan bahwa pemilik gelar Ph.D atau Doktor dapat menghasilkan pendapatan (kepuasan finansial) yang dapat bersaing dengan wirausaha lain yang juga sukses. Meskipun demikian hal tersebut tentu lebih baik dibandingkan jika gelar tersebut akan digunakan untuk mencari kekuasaan belaka (jabatan birokrasi).

Di Indonesia ada pendapat bahwa seorang yang bergelar tinggi juga identik dengan kemampuan untuk menjadi pemimpin yang baik. Padahal dalam program pendidikan Ph.D atau doktoral tersebut tidak ada pendidikan formal dan evaluasi yang menunjukkan bahwa pemegang gelar tersebut mempunyai kompetensi menjadi pemimpin yang baik. Hal tersebut juga dapat menjadi indikasi mengapa negara Indonesia yang kalau dilihat pemimpin-pemimpinnya mayoritas bergelar akademik tinggi tetapi relatif terbelakang dibandingkan negara-negara di Asia lainnya. Karena pemimpin yang baik tidak hanya butuh kemampuan akademik, tetapi juga komitmen, moral, dan lainnya yang tidak ada di bangku kuliah.

Keinginan pribadi meraih gelar Doktor

Berbicara tentang keinginan untuk mendapatkan gelar Doktor bagi penulis, tentu saja tidak terlepas dari latar belakang pekerjaan dan hobby yang telah penulis tekuni. Bidang pembelajaran bagi penulis telah dimulai sejak menjadi asisten mahasiswa (1986) di UGM, Yogyakarta. Karena pada waktu itu tidak ada pemikiran sama sekali untuk menjadi dosen (hanya hobby mengajar saja) maka selanjutnya saat lulus (1989), penulis bekerja di kantor konsultan PT. Wiratman & Associates, Jakarta. Hal tersebut terinspirasi untuk menjadi seperti seorang Prof. Rooseno yaitu menjadi perencana struktur yang hebat. Karena saat itu kantor konsultan PT. Wiratman & Associates sedang naik daun, banyak melakukan perencanaan gedung tinggi di Jakarta, maka tanpa berpikir panjang dengan berbekal ijazah sarjana teknik maka penulis langsung menyampaikan lamaran untuk bekerja disana dan diterima.

Selama bekerja di sana, pada sore hari penulis meluangkan waktu untuk mengajar di Universitas Tarumanagara, hal tersebut dimungkinkan oleh budi baik Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra salah satu manajer di PT. W&A yang kebetulan juga mengajar di universitas tersebut (saat ini Profesor di UPH).

Cukup lama penulis bekerja di kantor konsultan PT. Wiratman, sudah banyak proyek-proyek bidang perencanaan dan pengawasan yang penulis ikuti, tetapi rasanya tidak ada peningkatan karir, hanya berpindah dari satu proyek ke proyek yang lainnya. Akhirnya penulis mengalami kejenuhan. Untuk mengantisipasi kejenuhan tersebut hanya ada dua hal yang terlintas pada pikiran yaitu pindah kerja (peluang karir baru) atau sekolah lagi. Tahun 1993 akhir, peluang muncul, penulis diberi kesempatan untuk mengelola kantor konsultan rekayasa yang relatif kecil tetapi menantang yaitu PT. Pandawa Swasatya Putra. Karena relatif masih kecil maka nilai tambah yang diberikan oleh pemilik konsultan tersebut adalah adanya waktu bebas untuk mengambil perkuliahan lagi. Klop dengan pikiran penulis, akhirnya sejak itu mendapat pekerjaan baru dan sekaligus mengambil program S2 di UI (1994).

Selama itu cita-cita penulis yaitu ingin menjadi perencana struktur hebat hampir terpenuhi, di kantor baru tersebut penulis diberi kepercayaan untuk melakukan proses-proses perencanaan secara mandiri, yaitu menjadi chief-engineer. Penulis bertanggung jawab soal teknis sedangkan pemilik bertanggung-jawab soal bisnis proyek (keuangan dan order / proyek baru). Sampai saat itu tidak terlintas sama sekali keinginan untuk bekerja sebagai dosen, apalagi mengambil program doktoral.

‘Manusia berusaha tetapi Tuhan-lah yang menentukan’, suatu peribahasa yang rasanya tepat sekali menggambarkan kehidupan saya pada saat itu. Pada saat kantor konsultan dirasakan mulai berkembang (1996-1997), chief-engineer mendapatkan fasilitas mobil dinas, studi S2 hampir selesai, ternyata krisis moneter terjadi di Indonesia. Dunia konstruksi terguncang, termasuk kantor tempat saya bekerja juga terkena imbasnya. Proyek yang sedang berjalan terhenti, cash-flow perusahaan tidak kuat dan akhirnya bankrupt (April 1998). Kebetulan sekali tahun itu studi S2 di UI berhasil diselesaikan, dan saat itu banyak sekali orang-orang yang mempunyai kualifikasi internasional berpindah kerja ke luar negeri, terjadi kekosongan profesi. Itu terjadi juga di UPH, dan itu berarti ada lowongan baru, atas dukungan rekan senior dan juga karena sudah mendapat gelar S2 maka penulis atas perkenan Tuhan dapat berpindah kerja secara mulus menjadi tenaga pengajar tetap. Penulis berpindah karir dari engineer menjadi lecturer (Juli 1998), sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya, meskipun ternyata, pengalaman dan hobby mengajar yang telah penulis lakukan sangat membantu dalam hal tersebut.

Dari tahun 1998 – 2001, penulis mengajar seperti biasa, karena hidup di lingkungan akademik dimana banyak bertemu dengan orang-orang lain dengan gelar akademik yang tinggi, juga tersedianya buku-buku yang bermutu sehingga karena termasuk hobby membaca maka mulai terlihat keinginan-keinginan untuk belajar lagi di S3. Idenya sederhana, seorang pengajar yang belajar lagi itu identik dengan peningkatan karir dan lebih prestise, hanya itu saja. Sampai akhirnya terjadi momentum yang penting yaitu adanya kerjasama dengan Jerman yang diusahakan oleh Dekan di Fakultas tempat penulis bekerja. Karena ditawari, maka penulis langsung menyambut dengan gembira, meskipun pada saat itu penulis merasakan bahwa bahasa Jerman menjadi kendala karena tidak dikuasai dan hanya sekedar bisa memakai bahasa Inggris saja. Kerja sama yang dimaksud adalah beasiswa hidup selama tiga bulan untuk melakukan penelitian di salah satu Institut di Jerman. Atas budi baik Dekan di UPH akhirnya penulis berkesempatan untuk melakukan penelitian di Uni-Stuttgart (Mei – Juli 2002) di bawah bimbingan Dr.-Ing. Karl-Heinz Reineck (sekarang Profesor).

Meskipun hanya tiga bulan yang relatif sangat singkat (baca report-nya), tetapi pada waktu itu sangat tepat sekali karena pembimbing di sana saat itu sedang sibuk membantu American Concrete Institute (ACI) memasukkan teori s.t.m (strut-and-tie-models) hasil temuan Uni-Stuttgart untuk dimasukkan ke dalam Code Amerika yang baru yaitu ACI 318-2002, sehingga banyak tugas penelitian yang harus diselesaikan. Akhirnya salah satu tugas tersebut diberikan ke penulis untuk dikerjakan segera sehingga waktu tiga bulan tersebut dapat secara efektif digunakan. Akhirnya hasil penelitian saya dapat dipublikasikan sebagai salah satu bab dalam buku yang diterbitkan oleh ACI (Dewobroto dan Reineck 2002).

Peristiwa tersebut mengubah cara pandang penulis secara radikal, bahwa penelitian bukan merupakan suatu yang menakutkan tetapi memberi kenikmatan, apalagi kalau dapat dipublikasikan secara luas (internasional). Ada suatu rasa pride yang tidak bisa dikatakan yang dapat memberikan kepuasan yang tidak diperoleh selama bertahun-tahun hidup sebagai engineer maupun lecturer di universitas.

Sejak itu, setelah kepulangannya dari penelitian di Jerman, penulis mempunyai hobby baru yaitu menulis untuk dipublikasikan (lihat daftar publikasi penulis).

Karena meneliti dan menulis juga identik dengan program Ph.D seperti yang dijelaskan di depan maka ketika ada kesempatan beasiswa dari Universitas Pelita Harapan maka langsung ditindak-lanjuti dan memilih Universitas Katolik Parahyangan untuk melakukan studi S3 (2004). Sampai akhirnya kemarin tanggal 24 Februari 2006 maju sidang Ujian Kualifikasi untuk memasuki Tahapan Doktoral.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keinginan mengambil program Ph.D atau Doktor adalah karena :

  1. Hidup di dunia akademis yaitu menjadi pengajar tetap di Universitas Pelita Harapan, dimana ada pameo bahwa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi adalah merupakan peluang peningkatan karir. Adanya peningkatan karir menunjukkan bahwa penulis tidak statis dan ada keinginan untuk berubah / dinamis, yang merupakan ciri-ciri adanya kehidupan yaitu tumbuh dan berkembang. Sedangkan statis, diam, dan sejenisnya adalah ciri-ciri sesuatu yang mati.
  2. Pengalaman di Jerman memberi pemahaman yang baru bahwa meneliti dan membuat publikasi itu sesuatu yang dapat dinikmati, dan itu diperoleh juga jika menjadi peserta program Ph.D. Karena institusi tempat penulis pekerja memberi kesempatan dan beasiswa menjadi peserta program Ph.D maka tidak ada salahnya untuk diikuti. Ibarat pepatah sambil menyelam minum air.
  3. Agar dikatakan tidak munafik maka tentu saja adalah karena mengikuti ego sebagai manusia Indonesia pada umumnya, yang beranggapan bahwa gelar yang lebih tinggi merupakan prestise tersendiri, yang dapat memberikan kebanggaan kepada istri, anak, saudara dan lingkungan sekitarnya serta dapat menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kualitas hidupnya di masyarakat.

Semoga Tuhan berkenan terhadap apa yang penulis harapkan, seperti dikatakan-Nya dalam alkitab :

I tell you the truth, if anyone says to this mountain. ‘Go, throw yourself into the sea’, and does not doubt in his heart but believes that what he says will happen; it will be done for him.
Mark 11:23

Sumber Pustaka

  1. Dedi Supriadi. (1997). “Isu dan Agenda Pendidikan Tinggi di Indonesia”, Penerbit PT. Rosda Jayaputra Jakarta
  2. Josep Murphy (Alih bahasa : B. Dicky Soetadi). (1997). “Rahasia Kekuatan Pikiran Bawah Sadar”, cetakan ke-5 tahun 2000, Spektrum, Mitra Utama-Prentice Hall, Jakarta
  3. University of Otago. (2002). “Handbook for PhD Study, Revised January 2002”, Dunedin, New Zealand
  4. Wikipedia, the free encyclopedia. (2006). “Doctor of Philosophy”, http://en.wikipedia.org/wiki/PhD

 

2006 Wiryanto Dewobroto All rights reserved.